Sang Pengeprik

 Terimakasih Bapak/ibu Tani sungguh mulia jasamu

 

Senyum bahagia tersungging di wajah sang “pengeprik” menghadapi musim panen  kali ini, ibu Bariah (56), depan dan ibu Armunah (75) warga Desa Marga Mulya Kec. Mauk Kab. Tangerang, Banten. Istilah pengeprik disandangkan oleh masyarakat Mauk kepada orang yang bekerja mengambil/memungut sisa gabah atau gabah yang tertinggal saat penggebotan/perontokan. Kegiatan mengeprik dilakukan oleh sebagian masyarakat karena tidak memiliki lahan garapan dan sebagai pengisi waktu luang saat musim panen tiba. Dari kegiatan mengeprik ini bu Bariah dan bu Armunah menuturkan selama satu hari ± 7 jam diperleh 1 bakul gabah kering panen (GKP) yang akan dibawa pulang untuk dikeringkan dan disimpan sebagai cadangan pangan atau dijual langsung untuk menambah kas dapur. Dari satu bakul GKP bisa diperoleh 6 liter beras (± 4.8 Kg) dengan harga perliternya Rp. 4000,- .

Salah seorang ketua kelompok tani yang ada di sana M Enin mengatakan itulah sebabnya teknologi Power Tresher (mesin perontok padi) tidak bisa diadopsi di wilayah ini, bukan berarti petani tidak mau dan tidak mampu mengadopsi teknologi yang mampu menekan prosentase losses saat panen tersebut, bahkan kata H Yani ketua kelompok Tani Melati, kehilangan hasil dari kegiatan mengeprik ini bisa mencapai 10 %, angka yang cukup fantastis. Susahnya petani mauk mengadopsi Powertresher dan tetap melakukan perontokan padinya secara manual (foto bawah) karena mereka masih memiliki jiwa sosial yang tinggi terhadap masyarakat tani lainnya, mereka rela kehilangan hasil demi orang lain, Subhanalloh suatu hal yang sangat mulia dan tidak pernah diekspose atau diumumkan ke publik yang sangat bertolak belakang dengan politikus kita yang senantiasa mengatasnamakan petani demi petani dan untuk petani dalam kampanye politiknya padahal entah siapa dan petani yang mana?? Mungkin petani yang ada di negeri Antah Berantah kalee..

Mengeprik merupakan kegiatan yang muncul akibat semakin sempitnya lahan pertanian dan terbatasnya lapangan kerja. Dengan kata lain petani mampu menciptakan lapangan kerja disaat para pengusaha melakukan PHK terhadap karyawannya. Dengan kondisi tersebut tidak salah bila masyarakat tani berharap dan menyambut baik program Lahan Pertanian Abadi yang dicanangkan pemeritah, tapi mana? sampai sekarang perumahan-perumahan baru terus di bangun bak jamur tumbuh di musim hujan, ironisnya justru perumahan tersebut dibangun di lahan yang beririgasi teknis. Sangat memprihatinkan. semoga lahan pertanian kita dapat dipertahankan. Amiin!

keadilan itu bahasa penguasa, kebenaran itu Retorika Intelektual…..Kemiskinan, perbudakan adalah bahasa Rakyat.

Wassalam

Fathurohman